Open Office dan Subversion di Kantor

| 8 Comments | No TrackBacks

Dua orang teman yang berada satu ruangan dengan saya di kantor bulan-bulan terakhir ini mengganti pemakaian Microsoft Word ke Writer dari Open Office. Dokumen yang mereka hasilkan juga sudah lumayan ukuran dan jenis isinya: untuk keperluan penulisan buku. Seorang memasang Open Office di Microsoft Windows 2000, sedangkan satunya lagi di Linux distribusi Slackware. Keduanya memaparkan bahwa boleh dikatakan tidak ada kesulitan yang berarti dengan pemakaian Open Office. Saya sempat “diundang” melihat konversi berkas yang dihasilkan Writer ke Microsoft Word dan sebaliknya, proses berjalan dengan baik. Termasuk bagian dokumen yang berisi tabel, gambar, efek fonta, dan kode sumber (source code listing).

Teman pemakai Open Office di Slackware pernah mengalami kecelakaan Writer yang digunakan olehnya sempat menyebabkan crash dan menghapus isi berkas yang sedang disunting, namun hal itu terjadi pada versi yang lalu. Dengan versi Writer saat ini produk tersebut sudah lebih baik dan dia tidak menjumpai lagi gangguan seperti sebelumnya. Faktor lain yang turut mendukung: karena di kantor saya sekarang ini para penulis materi dan program menggunakan kendali versi (versioning control) — dipilih Subversion — untuk pekerjaan mereka, salinan versi sebelumnya tersedia di komputer lain yang dijadikan server Subversion. Seandainya pun si Writer bertingkah melenyapkan isi sebuah berkas, versi cadangan dari server Subversion dapat digunakan.

Memang pemakaian Open Office untuk perangkat lunak perkantoran masih perlu motivasi yang lebih kuat dari pemakainya. Kebetulan dua orang ini memiliki latar belakang TI sebagai pengembang dan bagi mereka kurva untuk mempelajari perangkat lunak baru tidak terlalu curam. Demikian pula keperluan pemakaian kendali versi di tempat kerja saya mengikuti proses “alah bisa karena biasa”. Akhirnya setiap orang merasa perlu menyimpan pekerjaan mereka dalam bentuk repositori Subversion dan kami semua menganggap tempat penyimpanan tersebut menjadi sebuah “server kesayangan”.

Tanpa motivasi, kita sering menjadi khawatir untuk mencoba sesuatu yang baru, membuka alternatif yang lain, dan sayangnya menjadi seolah-olah harus tergantung dengan produk tertentu. Sebagian orang menyebutnya sebagai “kecanduan”. Apabila anda sudah menjadi pemakai sebuah perangkat lunak dan di kemudian hari produk tersebut menyulitkan situasi anda, ambil kesempatan untuk mempertimbangkan merk lainnya. Walaupun sering disebut dunia kita bertambah sempit, pikiran kita tetap harus lapang dalam mencari alternatif.

Untuk saya sendiri, Vim masih mencukupi (termasuk untuk menulis entri di blog ini) dan, hmm… spek komputer yang saya gunakan terlalu rendah untuk dipasangi Open Office.

No TrackBacks

TrackBack URL: http://mt4.atijembar.net/mt-tb.cgi/331

8 Comments

di kantor saya sudah setahun lebih mengimplementasikan openoffice, untuk kalangan administrasi/operator sudah terbiasa. namun justru dari kalangan engineer agak belum terbiasa, karena MS office lebih nyaman bagi mereka. cukup aneh bagi saya :)

Aku baru tahap menyediakan OpenOfficeOrg di jaringan komputer kantor. Walaupun sesungguhnya penulisan yang dilakukan hanya membutuhkan fitur-fitur sederhana, sehingga memang piranti pengolah kata sederhana sesungguhnya sudah memadai, tetapi ternyata memang mengubah kebiasaan merupakan hal yang sulit.

Ancaman operasi piranti bajakan, agak membantu untuk mendorong teman-teman belajar menggunakan piranti yang legal. Saat ini baru FireFox yang dipakai seluruh kantor, tanpa keluhan. Saat ini sedang mencari cara agar proses peralihan dari MS Office ke OoO sama mudahnya, bahkan lebih mudah. Sebenarnya aku juga sudah memasang AbiWord untuk proses penulisan yang lebih sederhana, juga sedang mempelajari penerapan AbiWord di tumbdrive, aku harap bahwa dengan membuat program yang sama (dengan pengkhususan/customization pribadi) akan mendorong pengalihan penggunaan piranti lunak. Pekerjaan terbanyak di kantor memang menulis, jadi penggunaan piranti pengolah kata akan merupakan dorongan terakhir sebelum mendorong penggunaan aplikasi Linux.

Kenapa subversion ya, bukan cvs? Fitur standarnya kan sama saja.

Kalau saya pribadi lebih suka subversion karena fitur “local diff” yang berguna untuk keperluan pemrograman. Tapi untuk berkas OpenOffice.org yang dikompresi dengan zip, fitur diff ini tidak akan berguna, bukan?

Boleh share lebih detail cara penggunaaan Subversion untuk mengontrol document update di kantor? Mungkin bisa di-blog-kan?

#3: Salah satu yang membedakan Subversion dengan CVS dalam hal menyimpan file binary, sepengatahuan saya, Subversion tetap hanya menyimpan delta (bagian yang berubah saja) dalam menangani file binary sekalipun. Mungkin (saya sendiri belum pernah mencoba) kita dapat menyimpan file-file XML (yang notabene adalah file teks) hasil dekompresi format dokumen OpenOffice di Subversion supaya dapat di-diff.

OOT, mungkin sebenarnya yg lebih esensial adalah dicanangkan program penulisan dokuemn dgn struktur yang benar. Apakah OO sama saja dgn MS Word ya? Ada yang bilang kebanyak orang menulis dengan cara ngawur sewaktu di MS Word (atau mgk di OO juga), saya contohnya (contoh yang suka ngawur waktu nulis dokumen :p )

Hmm, untuk keperluan non-programming ada tidak ya kendali versinya. Kalau nanti diff-nya berbentuk apa yang seperti kita lihat di dunia pemrograman, mungkin banyak yang bakalan lari :D ..

sory neh OOT…..ada yang pernah setting svn ga?:) saya ingin create repository dari dengan menggunakan winCVS…,kok gak bisa yac??? yang harus di settingnya apa lagi yac..?? makasih kaka2 semuanya

Coba pakai Tortoise SVN untuk klien Subversion di Windows.

About this Entry

This page contains a single entry by Ikhlasul Amal published on July 14, 2005 4:17 AM.

Majalah Chic Menyalin Tulisan Enda Nasution? was the previous entry in this blog.

Technorati yang Sibuk is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

OpenID accepted here Learn more about OpenID
Powered by Movable Type 4.261