Mendambakan Koneksi Internet yang Baik di Sembarang Waktu

| 8 Comments | No TrackBacks

Ini adalah fenomena besar yang barangkali sangat mudah dijelaskan: koneksi Internet seluler yang saya gunakan hampir selalu lebih bagus di pagi hari, sekitar subuh hingga jam berangkat ke kantor. Seringkali kita di Indonesia tidak perlu penjelasan muluk-muluk untuk kejadian seperti ini, seperti halnya sedikit kecerobohan sudah cukup untuk menjelaskan terjadinya musibah.

Barangkali setelah pukul 4 dini hari, para tukang unduh, penonton film Youtube, pemrogram yang sibuk mengakses pustaka dan dokumentasi, dan kelompok-kelompok gerilyawan malam lain, sudah usai dengan misi suci pasca-jam kerja. Seperti “After Dark”, merk utilitas penghemat layar monitor generasi awal.

Sore hari hingga tengah malam benar-benar memedihkan: bahkan dengan koneksi GPRS pun lebih lambat dibanding era dial up. Barangkali perlu diukur korelasi dengan sinetron dan sejumlah acara seenaknya di televisi pada jam-jam tersebut terhadap kualitas koneksi. Atau memang sudah tidak ada kaitan apapun, karena Klompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa) berbeda total dengan pengguna Internet.

Jadi, kapan koneksi Internet cukup andal, apapun yang terjadi?

Hujan, badai, banjir, petir, bolehlah disebut gangguan dari alam, namun kehadiran mereka lebih jarang dan biasanya dalam zona terbatas. Jika karena Jakarta dilanda bah dan Indonesia hilang dari peta koneksi Internasional karena ruang server terendam air misalnya, berarti koneksi nasional masih mengikuti pusaran duit nasional di ibukota. Keluhan gangguan koneksi jika hujan turun atau terdengar bunyi geluduk yang sempat muncul di kantor kami juga sudah diketahui gara-gara kabel telepon yang sudah uzur di atap rumah.

Sekarang, apa ya?

Rasio pengguna terhadap kapasitas jalur di BTS? Pembelian perangkat koneksi Internet nirkabel melonjak pesat. Perang tarif percakapan sudah berulang-kali berganti model, sekarang kedatangan gelombang pengguna komunikasi data lewat akses selular yang harus diperhitungkan. Karena jenis yang ini berbeda: seolah tiada waktu berhenti dan seisi muka bumi dalam genggaman.

Keandalan, berapapun jumlah pengguna saat itu. Dengan ungkapan yang lebih terukur: penambahan pengguna harus tetap diatasi dengan peningkatan simpul keberhasilan-akses. Jika dipromosikan layanan tanpa-batas (kendati diimbangi batas pada kecepatan akses), tetaplah janji dapat diakses sembarang waktu itu harus dipenuhi. Demikian halnya dengan batas-atas kecepatan (up to) sekian kbps, mengapa tanpa jaminan batas-bawah? Pengguna tentu sudah maklum dengan batas-atas berdasarkan pilihan-pilihan pada saat akan meminang layanan Internet, namun ibarat berjudi dengan kucing dalam karung ihwal batas-bawah yang sering terjadi.

Seorang teman yang tinggal di kawasan barat Kota Bandung harus bangun tengah malam untuk memantau tadahan air dari PDAM, pada saat aktivitas yang berkaitan dengan air di kawasan lain kemungkinan berkurang. Mereka yang tinggal di sana belum sampai menuntut “air yang layak langsung minum”, melainkan baru “air mengucur setiap waktu.”

Apakah seperti ini juga nasib skalabilitas koneksi Internet dikaitkan dengan euforia “peningkatan jumlah pemakai yang signifikan”? Penduduk negara kita sangat besar. Begitu dicanangkan berskala nasional, sebuah layanan harus siap dengan keluhan “kegagalan di kota besar yang padat” dan pertanyaan “kapan sampai?” di daerah.

Teman dosen Teknik Mesin memaparkan pada saya sedemikian sulit memenuhi standar kendali mutu, bahkan untuk produksi barang yang fisiknya jelas-jelas terlihat seperti onderdil kendaraan. Setiap memenuhi sebuah persyaratan bakuan mutu, faktor-faktor yang terlibat melonjak secara eksponensial. Berongkos mahal dan belum tentu semua faktor tersebut terpenuhi.

Ini bukan pretensi menutup tulisan ini dengan permakluman akan kondisi buruk yang terjadi di sekitar koneksi Internet nirkabel, melainkan agar kedua sisi tetap dilihat berimbang. Jika kita ingat pun, seringkali calon konsumen di awal juga berdalih, “Yang penting ada dulu, nanti sambil berjalan diperbaiki.”

No TrackBacks

TrackBack URL: http://mt4.atijembar.net/mt-tb.cgi/608

8 Comments

dan mental ‘proyekan’ oleh para kontraktor. yang penting proyek dikerjain, baru hasilnya cuma bagus diawal, yang penting ada, yang penting jalan. ancur-ancuran belakangan ga peduli, toh proyekan.

untuk 3G harusnya NodeB, bukan BTS

saya juga merasakan hal serupa. di saat-saat normal, koneksi internet terasa empot-empotan. makanya, aktivitas download lebih suka pada hari sabtu-minggu. meski kadang gak selalu bagus, di dua hari itu koneksinya terbilang lumayan.

#syndes: proyek, apalagi di telekomunikasi dengan banyak variabel, ketika menunggu semuanya ideal dan pas sesuai baku mutu, bisa saya asumsikan proyek tersebut tidak akan pernah bisa jalan. terlalu banyak variabel, tidak hanya mengenai teknologi, infrastruktur bisa jauh lebih penting. ada kalanya ungkapan Anda benar, tapi ada kalanya memang itu yang harus dilakukan, jadi tidak lucu ketika menunggu 1 variabel yang belum jelas kapan selesainya kita harus menunda sebuah produk yang sudah memakan biaya begitu besar. yang bisa dilakukan adalah bagaimana membuat 1 variabel yang belum selesai tadi itu tidak berpengaruh pada produk akhir. disinilah definisi minimum requirement dibutuhkan.

salam proyek! :D

Akses internet di sini memang masih suck. Kapan ya ada internet cepat dan murah, haha

Saya merasa hari minggu,sabtu dan hari libur internet agak lambat,enakan pada hari kerja biasa. Salam kenal dari Surabaya mas.

Idem ditto. Justru akhir pekan koneksi internet via telkomselflash di tempat mukim saya (Sorowako, Sulsel) payah sekali, meski koneknya habis subuh atau lepas tengah malam. justru pada hari-hari kerja lumayan wus wus, itupun pada jam-jam pagi hingga menjelang siang.

Yang menggelikan, ketika kondisi ini saya keluhkan, customer service-nya bilang “coba akses pagi-pagi, pak” :( sembari melyani jubelan pendaftar yang hendak berlangganan flash juga :)

Bener tuh, koneksi internet di indonesia memang prihatin

About this Entry

This page contains a single entry by Ikhlasul Amal published on February 20, 2009 7:19 AM.

Era Facebook was the previous entry in this blog.

Jejaring Sosial dan Usia Calon Pengguna is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

OpenID accepted here Learn more about OpenID
Powered by Movable Type 4.261