Respon Penulis Artikel di Sinar Harapan

| 3 Comments | No TrackBacks

Seperti saya tulis di komentar Artikel di Sinar Harapan: Kutipan atau Disebut oleh Nara Sumber?, email berisi komplain persoalan pengutipan di Sinar Harapan telah saya layangkan ke mailing list Technomedia. Dugaan saya bahwa penulis yang bersangkutan akan merespon komplain yang saya kirim ternyata masih harus berbelok pada jawaban lain yang menurut saya tidak berhubungan.

Karena Technomedia adalah mailing list dengan arsip tertutup untuk publik, saya meminta izin untuk membawa ulir diskusi tentang persoalan ini dipublikasikan. Moderator Technomedia sudah membolehkan dengan penjelasan,

Boleh saja sih

Semoga tidak malah memperpanjang thread dan menjurus ke flame war. Sebab, masing-masing pihak sudah menyatakan penjelasannya.
Semoga ada banyak hikmah dari sini.

Sekaligus izin di atas saya maksudkan untuk Anthony Fajri yang telah mengirimkan jawaban Merry Magdalena ke id-gmail. Termasuk di dalam salinan email tersebut kutipan dari email yang saya kirim ke Technomedia.

Jawaban Merry sebagai berikut,

Thanks atas perhatiannya.
Itu memang hanya kutipan yang saya ambil dari weblog Idban Secandri. Saya berusaha menghubungi Idban dari email yang tertera pada weblognya tapi entah kenapa selalu mental kembali (bounce). Maaf jika saudara Idban merasa terganggu halaman pribadinya.

Salam
Merry

Pertama, yang saya minta perhatian justru penulis artikel di Sinar Harapan, karena terdapat bagian dari tulisannya menggunakan pengutipan dari tempat lain dengan cara yang tidak tepat. Seperti saya tulis, artikel sebelum ini — dan secara eksplisit disebut di email untuk Technomedia — adalah komplain, bukan perhatian seperti yang dimaksud balasan email di atas. Oke, saya jawab dengan terima kasih kembali, namun tolong baca lagi komplain saya dengan lebih baik.

Benar, sebagian angka yang saya kutip untuk Rencana Pemetaan Blogger Indonesia memang berasal dari blog Idban Secandri, karena dia yang sedang menggunakan data tersebut saat ini. Namun bukan semua dari blog Idban: saya juga mengumpulkan angka dari Blogbugs dan informasi dari APJII. Apakah hal ini sebuah “kebetulan” bahwa Merry melakukan pengambilan angka dari kedua situs itu juga? Di blog Idban tidak terdapat informasi tambahan tersebut. Dia hanya berkepentingan dengan angka-angka yang berkaitan dengan rencananya melakukan pemetaan penulis blog Indonesia.

Selain itu, analisis yang dilakukan Merry, sampai dengan mendapatkan hasil pembagian, juga sangat mirip dengan analisis yang saya lakukan. Sekali lagi: tidak ada di blog Idban.

Bahkan yang paling mencolok sebuah kalimat,

Menurut perhitungan Idban sendiri, data untuk Indonesia tersedia sebesar 14 MB dengan jumlah lokasi sebanyak 108.714 buah.

benar-benar disalin persis. Apakah hal ini juga sebuah kebetulan dan lagi-lagi tidak ada di blog Idban.

Komplain saya adalah kemiripan paragraf terakhir tulisan tersebut dan tanpa penyebutan sumber rujukan yang memadai. Saya tidak mengajukan komplain perihal kegagalan penulis melakukan kontak kepada nara sumber, dalam hal ini Idban Secandri. Itu urusan Merry dengan Idban, dan Idban sendiri sudah menulis protesnya.

Demikian pula seandainya penulis ingin menggunakan rujukan dari situs Web, dalam hal ini blog, dia tidak perlu harus melakukan kontak dengan penulisnya. Untuk apa? Kecuali memang ingin dimintai pendapat atau ditanyai topik tertentu. Rujukan yang sudah ditulis di blog dapat langsung digunakan, seperti halnya di media cetak, dengan menyebutkan sumber rujukan sepantasnya. Sekalipun hanya satu kalimat, jika penulis yang menggunakan rujukan tersebut tidak menyebutkan sumbernya, hal tersebut sangat tidak etis di dunia penulisan. Pengutip kalimat tadi dapat ditegur. Sebaliknya, pengutipan satu paragraf pun apabila disertai kaidah pengutipan yang benar, tidak akan dipermasalahkan. Penulis tidak perlu selalu harus mengontak nara sumber.

Ini yang saya sebut “antara komplain dan jawaban tidak bersambung”. Idban komplain tentang pengutipan data yang salah, saya komplain tentang cara pengutipan yang tidak sepatutnya, dan Merry menjawab komplain Idban dengan mengirimkannya dalam konteks komplain saya. Selesaikan urusan masing-masing.

Bagian akhir dari email jawaban tersebut juga “janggal”: Merry meminta maaf untuk Idban namun dialamatkan (sekali lagi) kepada saya. Lagipula, apa yang dimaksud dengan “merasa terganggu halaman pribadinya”? Apa dan siapa yang terganggu? Semua penulis blog — termasuk saya dan Idban — tidak terganggu jika ada pembaca datang dan membaca informasi yang dianggap bermanfaat di situ. Yang kemungkinan dapat menjadi masalah adalah cara penggunaan informasi tersebut untuk disebarkan lagi. Setiap penulis blog kemungkinan besar berbeda pendapat dalam hal ini dan sila rujuk ke aturan yang ditulis masing-masing. Yang jelas: untuk pengutipan, hampir semua penulis sepakat akan adanya penyebutan sumber rujukan. Saya pikir hal ini bukan sesuatu yang baru — tradisi di media cetak pun sudah lama seperti itu.

Seperti usulan Benny Chandra, kemungkinan yang perlu saya pertimbangkan adalah mengirim surat pembaca ke Sinar Harapan menjelaskan duduk persoalan ini. Di Technomedia saya sudah mengirim email berikutnya dan sampai 24 jam kemudian, yaitu sekarang, belum ada respon apapun.

Saya berharap wartawan yang menjadi penulis di media massa resmi1 peduli dengan persoalan seperti ini. Saya masih ingat pada kesempatan sebelumnya muncul pendapat bahwa tulisan di blog sulit dimuat di media massa — yang secara implisit sebenanya semacam mempertanyakan kualitas materi dan tulisannya gaya penulisan. Nah, sekarang pada saat ada bagian dari blog yang layak dikutip, cara pemuatannya serampangan.

Moderator Technomedia, saya tidak bermaksud memulai debat kusir. Yang lebih penting saat ini adalah berdiskusi sesuai dengan duduk persoalan.

1 Media massa yang terdiri (umumnya) atas banyak orang, terkoordinasi, dan memiliki kelengkapan badan hukum.

No TrackBacks

TrackBack URL: http://mt4.atijembar.net/mt-tb.cgi/286

3 Comments

Semoga respon dan reaksi seperti itu dari wartawan terkait dan juga moderator milis Technomedia bukan karena mereka merasa berada di ‘kasta’ yang lebih tinggi dari blogger sehingga bisa serampangan menyimpulkan sesuatu…

wartawan s*cks. sorry. tapi ini kesan yang saya dapat. mereka pintar ‘berkelit’ sebagaimana pejabat. ada wartawan yang tidak setuju? silakan buktikan sebaliknya…

ps: old media is dying. long live new media.

Saya kira kemalasan melakukan analisis oeh wartawan ybs. Mungkin kapasitasnya tidak sebagus anda dan idhan (maafkan komen ini untuk anda yang watawan media”resmi”)

About this Entry

This page contains a single entry by Ikhlasul Amal published on March 1, 2005 11:33 AM.

Artikel di Sinar Harapan: Kutipan atau Disebut oleh Nara Sumber? was the previous entry in this blog.

Diskusi Biaya Domain dan Rencana Pembentukan "Registrar" is the next entry in this blog.

Find recent content on the main index or look in the archives to find all content.

OpenID accepted here Learn more about OpenID
Powered by Movable Type 4.261